matilampulagii
People come and go. You just need to find someone who would bring you along when they go - Anonymous
Thursday, February 9, 2012
Lawas
It's probably a year or more since my last update. Many things happened, some were left behind, some remained still. I just don't know if I should keep this blog updated again. Silly me, this post I'm about to send is also an update. So whatever. I'm not sure if I should keep writing. Sorry for this stupid post. Just ignore. Hahaha..
Sunday, March 6, 2011
So long...
Gak ingat kapan terakhir kali ngeblog, hahaha..
Rasanya udah lama banget.
Maklumkan kesibukan gue yang nggak jelas, plus kemalesan gue online.
Tadi gue sempat baca ulang blog post gue yang sebelum-sebelumnya. Berasa rada aneh. Hahaha.
Kayaknya rata-rata posting-an nya galau semua. Hmm, dark days of my life, but I get over it.
Posting-posting setelah ini masih tetep curhatan gue sih. Tapi gak galau lagi kok. hahaha
I try to be a wiser man. And I want to post wise too. :D
Rasanya udah lama banget.
Maklumkan kesibukan gue yang nggak jelas, plus kemalesan gue online.
Tadi gue sempat baca ulang blog post gue yang sebelum-sebelumnya. Berasa rada aneh. Hahaha.
Kayaknya rata-rata posting-an nya galau semua. Hmm, dark days of my life, but I get over it.
Posting-posting setelah ini masih tetep curhatan gue sih. Tapi gak galau lagi kok. hahaha
I try to be a wiser man. And I want to post wise too. :D
Thursday, January 6, 2011
Life for Them
I wrote this a couple days ago in my trip to Bangkok, Thailand the last day, before I then continued to Pattaya.
30 Desember 2010,
Sebelum ini, gue selalu mikir 'jalan-jalan' cakupannya cuma soal kuliner, pemandangan, dan foto-foto. Dan memang itu yang paling gue nikmatin setiap pergi melancong.
Ini bukan trip pertama gue dalam sebuah grup yang ngajakin ke tempat kayak ini, toko yang jual tas, dompet, tali pinggang, dan souvenir dari kulit binatang, tapi entah kenapa baru kali ini gue benar-benar peka sama masalah ginian. Kerjasama travel agency dan toko-toko sejenis yang gue kunjungin ini udah sering gue liat sebelumnya.
Di entrance toko, kulit gajah dan kulit buaya dibentangin di dinding dengan ukuran super gede, bikin miris liatnya. Ada juga kulit unta, kulit pare, kulit kuda, dan beberapa jenis hewan yang nggak terlalu gue ingat. Gue coba megang contoh kulit pare yang dipampangin, sementara si SPG toko sibuk cuap-cuap soal gimana cara bedain jenis kulit asli dengan kulit imitasi. Gue emang nggak termasuk orang yang bisa bedain antara kulit asli dan kulit buatan, tapi gue merasa semua barang yang dijual di toko itu adalah jenis kulit palsu.
Sebenarnya yang jadi masalah bukan apakah barang yang dijual itu kulit asli atau bukan, tapi cara toko itu mencoba menjual barang-barangnya. Bayangkan jika 'promosi' mereka memang benar-benar kenyataan, berapa banyak gajah, buaya, dan unta yang dikorbankan? Bukankah gajah dan buaya itu termasuk hewan yang dilindungi? Jadi apa yang harus dibanggakan lewat menjual barang-barang dari kulit binatang yang dilindungi?
Sekalipun ada orang yang beli barang-barang itu karena menganggap itu buatan kulit asli, apa prestise yang bisa dia dapat? Kulit buaya asli? Membunuh buaya-buaya yang dilindungi? Demi sebuah tas (misalnya) yang dipakai dalam jangka beberapa tahun, lalu dibuang karena sudah ketinggalan mode. Puaskah dia? Puas karena sudah menghabiskan sejumlah uang untuk membunuh binatang yang kemudian disia-siakan beberapa waktu kemudian?
Gue tau ini isu lama. Global warming dan kepunahan. Tapi gue pengen share masalah ini, karena setelah gue benar-benar liat gimana cara mereka menjual produk mereka, gue merasa kita udah salah persepsi kalo mikir bahwa memakai kulit binatang itu keren. Mereka punya hak buat hidup, bukan semata buat dijadikan pelengkap fashion manusia doang. Update soal fashion bukan berarti kita berubah jadi animal slayer. Love the animals, guys. :)
30 Desember 2010,
Sebelum ini, gue selalu mikir 'jalan-jalan' cakupannya cuma soal kuliner, pemandangan, dan foto-foto. Dan memang itu yang paling gue nikmatin setiap pergi melancong.
Ini bukan trip pertama gue dalam sebuah grup yang ngajakin ke tempat kayak ini, toko yang jual tas, dompet, tali pinggang, dan souvenir dari kulit binatang, tapi entah kenapa baru kali ini gue benar-benar peka sama masalah ginian. Kerjasama travel agency dan toko-toko sejenis yang gue kunjungin ini udah sering gue liat sebelumnya.
Di entrance toko, kulit gajah dan kulit buaya dibentangin di dinding dengan ukuran super gede, bikin miris liatnya. Ada juga kulit unta, kulit pare, kulit kuda, dan beberapa jenis hewan yang nggak terlalu gue ingat. Gue coba megang contoh kulit pare yang dipampangin, sementara si SPG toko sibuk cuap-cuap soal gimana cara bedain jenis kulit asli dengan kulit imitasi. Gue emang nggak termasuk orang yang bisa bedain antara kulit asli dan kulit buatan, tapi gue merasa semua barang yang dijual di toko itu adalah jenis kulit palsu.
Sebenarnya yang jadi masalah bukan apakah barang yang dijual itu kulit asli atau bukan, tapi cara toko itu mencoba menjual barang-barangnya. Bayangkan jika 'promosi' mereka memang benar-benar kenyataan, berapa banyak gajah, buaya, dan unta yang dikorbankan? Bukankah gajah dan buaya itu termasuk hewan yang dilindungi? Jadi apa yang harus dibanggakan lewat menjual barang-barang dari kulit binatang yang dilindungi?
Sekalipun ada orang yang beli barang-barang itu karena menganggap itu buatan kulit asli, apa prestise yang bisa dia dapat? Kulit buaya asli? Membunuh buaya-buaya yang dilindungi? Demi sebuah tas (misalnya) yang dipakai dalam jangka beberapa tahun, lalu dibuang karena sudah ketinggalan mode. Puaskah dia? Puas karena sudah menghabiskan sejumlah uang untuk membunuh binatang yang kemudian disia-siakan beberapa waktu kemudian?
Gue tau ini isu lama. Global warming dan kepunahan. Tapi gue pengen share masalah ini, karena setelah gue benar-benar liat gimana cara mereka menjual produk mereka, gue merasa kita udah salah persepsi kalo mikir bahwa memakai kulit binatang itu keren. Mereka punya hak buat hidup, bukan semata buat dijadikan pelengkap fashion manusia doang. Update soal fashion bukan berarti kita berubah jadi animal slayer. Love the animals, guys. :)
Wednesday, December 22, 2010
After all this time .....
This is my fourth day in Medan. Things have gone well so far. I get to enjoy the menus of Medan's culinary I've been wanting to eat since long ago before I made it here. I get more than enough sleeping hours. And let's say that has cover up everything I need.
Spending days here is what I've always wanted since exactly two months ago, 22nd October 2010. That day means a lot for me, eventhough time has passed quite long since then. I thought my hometown would be a perfect escape for the hectic mind. I got no memories here, none of the painful. And right, I'm okay. Perfectlu am.
Okay, so this is just me. Even the least thing here can remind me of those days, the good days that now have became my nightmares. I still hear sounds, I see pictures, I imagine things. All of what I shouldn't have done. I don't know that it could be this hard. I'm sick of this. Really.
I'VE MOVED ON!! This is what I've been trying to yell out loud. No matter what's going to happen afterwards. I'm living my own life. Maybe the presence of that someone that I'm getting used to today. While for tomorrow, I'll leave the future to decide..
Spending days here is what I've always wanted since exactly two months ago, 22nd October 2010. That day means a lot for me, eventhough time has passed quite long since then. I thought my hometown would be a perfect escape for the hectic mind. I got no memories here, none of the painful. And right, I'm okay. Perfectlu am.
Okay, so this is just me. Even the least thing here can remind me of those days, the good days that now have became my nightmares. I still hear sounds, I see pictures, I imagine things. All of what I shouldn't have done. I don't know that it could be this hard. I'm sick of this. Really.
I'VE MOVED ON!! This is what I've been trying to yell out loud. No matter what's going to happen afterwards. I'm living my own life. Maybe the presence of that someone that I'm getting used to today. While for tomorrow, I'll leave the future to decide..
Friday, December 17, 2010
Home :)
December 18 th, 2010.
I've been counting down for this day since like two months ago. I'm coming back to Medan today and this still looks like a dream for me. Going "home" after half year living apart from my family. This is going to be great as soon as I made it to my hometown.
It's cliche how I had been doing the exactly same thing six months ago, counting down days to 1st July. Yeah, different time, different place, different reason, and different expectation.
Days before 1st July, the eagerness to be in Jakarta (now my current location) had been so strong. I was going to leave my hometown to study. I knew that it's going to be hard. The days without parents and sister, things I had never imagine that today would become the struggle that I have to fight everyday. I would have laughed now if I remember the things that had been the "motivator" to this city. Love (or should I call it infatuation). #brblaughingsarcasticly. I won't tell much about this, because I don't regret any single thing that has happened upon me, any moment I've been through. Sweet and bitter.
I just never thought that the same thing which had attracted me to Jakarta, is the exact same thing that distracts me. Once I put my step into this cosmopolitan city, I could survive since the very first day. But as the reasons that kept me strong faded away, I feel like going home. Immediately.
And here I am, today, here, writing this blog as I'm on my way to airport. I don't know what I'll be through when I'm going back here. I won't bother much, as long as I could still smile for the rest of this year. :) All I know is, I'm coming home today, the place I belong. No heartache, no hatred.
Wish me a safe flight! :D
I've been counting down for this day since like two months ago. I'm coming back to Medan today and this still looks like a dream for me. Going "home" after half year living apart from my family. This is going to be great as soon as I made it to my hometown.
It's cliche how I had been doing the exactly same thing six months ago, counting down days to 1st July. Yeah, different time, different place, different reason, and different expectation.
Days before 1st July, the eagerness to be in Jakarta (now my current location) had been so strong. I was going to leave my hometown to study. I knew that it's going to be hard. The days without parents and sister, things I had never imagine that today would become the struggle that I have to fight everyday. I would have laughed now if I remember the things that had been the "motivator" to this city. Love (or should I call it infatuation). #brblaughingsarcasticly. I won't tell much about this, because I don't regret any single thing that has happened upon me, any moment I've been through. Sweet and bitter.
I just never thought that the same thing which had attracted me to Jakarta, is the exact same thing that distracts me. Once I put my step into this cosmopolitan city, I could survive since the very first day. But as the reasons that kept me strong faded away, I feel like going home. Immediately.
And here I am, today, here, writing this blog as I'm on my way to airport. I don't know what I'll be through when I'm going back here. I won't bother much, as long as I could still smile for the rest of this year. :) All I know is, I'm coming home today, the place I belong. No heartache, no hatred.
Wish me a safe flight! :D
Thursday, December 2, 2010
I wish I had a boyfriend (?)
Would life be better with the presence of a boyfriend?
Would I be happier if there's someone commit himself as mine?
Would I feel more secure if someone promise to take care of me?
I never know the answer to these questions. They might be simply range between yes and no, but I can rarely decide. However, I would have answered no to all those similiar questions days before, but silly today, I really wish I had a boyfriend.
Let's rewind what had happened today.
Pagi sebelum berangkat ngampus, gue sempatin singgah di bengkel las. (note: gue order tukang las buat bikin kerangka besi tugas final gue). Entah gue yang bego, atau tukang las-nya yang jago nge-bego-in gue, akhirnya gue setuju bayar 250 ribu (hasil nawar dari yang tadinya 350 ribu). Mahal? Ya. Mahal. Banget. Ditambah lagi, setelah confirm ke beberapa teman seangkatan, ada yang make jasa tukang las dengan upah 10% dari total transaksi gue dengan tukang las orderan gue. Nyesek? Banget.
(Sebenarnya kejadian yang mirip kayak begitu udah pernah gue alami. (Untungnya), waktu itu gue sadar lagi ditipu)
Telaah : Apa yang salah dari gue? Muka yang terlalu polos? Atau gue yang terlalu cepat percaya sama orang?
Oke, cukup membahas soal tukang las yang berhasil mood gue hancur setengah-harian. Mari pindah ke masalah parkiran.
Bisa dibilang apes, gue hari ini dapat parkir di daratan nan jauh dari kampus. Kalo dihitung-hitung, mungkin ada sekitar 150 meter jarak antara mobil gue dan kampus. Jauh? Silahkan Anda pertimbangkan.
Gue pribadi, nggak masalahin seberapa jauh gue harus jalan dari parkiran ke kelas tapi seberapa banyak bawaan yang gue harus angkut dari mobil ke kelas.
Mari berkalkulasi. 6 x 150 meter = 900 meter.
Dan apakah kalo seandainya gue punya pacar, keadaan bakal "less-hectic"? Probably yes.
Masalah tukang las:
SEANDAINYA gue ditemenin sama seseorang, terutama cowok, mungkin gue nggak bakal ditipu habis-habisan sama si tukang las. Mungkin gue nggak bakal dianggap "nggak tahu apa-apa" soal dunia tukang.
Masalah bawaan:
Yang ini mungkin agak egois kedengarannya. Tapi SEANDAINYA gue punya pacar, BARANGKALI dia bakal bermurah hati mengurangi bawaan gue. Seperempatnya aja udah membantu banget.
Dan SEANDAINYA gue punya pacar yang sibuk, yang nggak bisa nemenin gue ke bengkel las atau bantuin gue bawain sedikit barang-barang gue, setidaknya gue punya tempat di mana gue bisa ceritain semua ini. Tempat yang jauh lebih baik daripada harus curhat di blog.
How's that sound? Pathetic?
Would I be happier if there's someone commit himself as mine?
Would I feel more secure if someone promise to take care of me?
I never know the answer to these questions. They might be simply range between yes and no, but I can rarely decide. However, I would have answered no to all those similiar questions days before, but silly today, I really wish I had a boyfriend.
Let's rewind what had happened today.
Pagi sebelum berangkat ngampus, gue sempatin singgah di bengkel las. (note: gue order tukang las buat bikin kerangka besi tugas final gue). Entah gue yang bego, atau tukang las-nya yang jago nge-bego-in gue, akhirnya gue setuju bayar 250 ribu (hasil nawar dari yang tadinya 350 ribu). Mahal? Ya. Mahal. Banget. Ditambah lagi, setelah confirm ke beberapa teman seangkatan, ada yang make jasa tukang las dengan upah 10% dari total transaksi gue dengan tukang las orderan gue. Nyesek? Banget.
(Sebenarnya kejadian yang mirip kayak begitu udah pernah gue alami. (Untungnya), waktu itu gue sadar lagi ditipu)
Telaah : Apa yang salah dari gue? Muka yang terlalu polos? Atau gue yang terlalu cepat percaya sama orang?
Oke, cukup membahas soal tukang las yang berhasil mood gue hancur setengah-harian. Mari pindah ke masalah parkiran.
Bisa dibilang apes, gue hari ini dapat parkir di daratan nan jauh dari kampus. Kalo dihitung-hitung, mungkin ada sekitar 150 meter jarak antara mobil gue dan kampus. Jauh? Silahkan Anda pertimbangkan.
Gue pribadi, nggak masalahin seberapa jauh gue harus jalan dari parkiran ke kelas tapi seberapa banyak bawaan yang gue harus angkut dari mobil ke kelas.
Rute 1: Mobil - Kelas
List bawaan:- tas (bawaan rutin kalo kuliah)
- kerangka draft 3
- 3 paket modul buat draft 3 (yg untungnya masih dikit)
- gulungan gambar studi movement (yg seharusnya nggak dibawa)
- goody bag yang isinya perlengkapan "bertukang"
- kardus ukuran A1 yang udah kepake seperempat
Rute 2: Kelas - Mobil
List bawaan: kardus ukuran A1 tadi yang nggak jadi diapa-apain di kelasRute 3: Mobil - Kelas
List bawaan: 2 birmed ukuran A1Rute 4: Kelas - Mobil
List bawaan:- tas
- kerangka draft yg tetap kosong + modulnya
- gulungan gambar studi movement
- goody bag lagi
- birmed yang udah berubah jadi kontur tanah
- sisa potongan birmed yang gede-gede
- birmed temen yang ketinggalan
Rute 5: Mobil - Kelas
Nggak bawa apa-apaRute 6: Kelas - Mobil
List bawaan: 2 draft tugas gue yang terakhir (takut dibuang, karena isu-nya studio bakal dibersihin besok)Mari berkalkulasi. 6 x 150 meter = 900 meter.
Dan apakah kalo seandainya gue punya pacar, keadaan bakal "less-hectic"? Probably yes.
Masalah tukang las:
SEANDAINYA gue ditemenin sama seseorang, terutama cowok, mungkin gue nggak bakal ditipu habis-habisan sama si tukang las. Mungkin gue nggak bakal dianggap "nggak tahu apa-apa" soal dunia tukang.
Masalah bawaan:
Yang ini mungkin agak egois kedengarannya. Tapi SEANDAINYA gue punya pacar, BARANGKALI dia bakal bermurah hati mengurangi bawaan gue. Seperempatnya aja udah membantu banget.
Dan SEANDAINYA gue punya pacar yang sibuk, yang nggak bisa nemenin gue ke bengkel las atau bantuin gue bawain sedikit barang-barang gue, setidaknya gue punya tempat di mana gue bisa ceritain semua ini. Tempat yang jauh lebih baik daripada harus curhat di blog.
How's that sound? Pathetic?
Saturday, November 27, 2010
None should Underestimate
Sebelumnya nggak pernah kebayang kalo gue bakal nulis sesuatu di blog. Tapi kemarin, gue mengalami sesuatu yang benar-benar mengubah cara pandang gue dan yang mendorong gue untuk akhirnya menulis sebuah blog.
Gue tipe orang yang lebih senang kerja indivudual daripada harus tergabung dalam satu kelompok. Gue pengen segala sesuatu itu serba perfect menurut prespektif gue, atau gue nggak bakal aktif sama sekali di kelompok itu. Dan itulah yang terjadi waktu gue harus melakukan kegiatan sejenis bakti sosial sebagai tugas akhir semester sebuah mata kuliah di dalam sebuah kelompok yang mayoritas anggotanya nggak terlalu gue kenal.
Sejujurnya, gue nggak setuju dengan keseluruhan konsep kegiatan yang bakal dilakukan kelompok gue. Mulai dari penyusunan proposal sampai pengajuan proposal itu ke PIC, gue merasa ada yang nggak bener. Salah satu anggota yang dikasih tanggung jawab untuk jadi ketua kelompok sepertinya benar-benar kerja sendirian, sedangkan anggota kelompok yang lain sama sekali nggak tahu perkembangannya. Gue pribadi sih bakal cuek aja kalau hasilnya bisa bagus. Kenyataannya, hasil yang ada sangat jauh dari kata 'bagus'.
Bareng beberapa anggota kelompok yang lain, akhirnya proposal itu direvisi ulang. (gue termasuk anggota yang paling acuh sebenarnya). Menurut hasil revisi proposal, kegiatan bakti sosial itu dijalankan kemarin, 27 November 2010.
Dan inilah kejadian yang akhirnya menjadi titik balik cara pandang gue.
Sampai ketika sampai di lokasi, gue masih beranggapan bahwa ketua kelompok gue adalah tipikal primitif yang memihak orang-orang satu sukunya. Gue merasa berat karena harus bakti sosial di tempat yang notabene adalah anak-anak sesuku ketua kelompok itu.
Selama awal acara, gue memilih jadi seksi dokumentasi daripada harus berinteraksi dengan orang-orang yang nggak gue suka. Gue merasa nyaman dengan ruang yang gue ciptakan di antara mereka.
Karena dalam syarat kegiatan, gue harus 'nimbrung' juga dalam acara, gue terpaksa melibatkan diri dalam konteks seminim mungkin.
Entah gue harus menyesal atau bersyukur, karena justru ketika gue benar-benar melihat mereka, gue tersentuh. Mayoritas dari mereka memiliki keterbelakangan mental, hiperaktif, dan krisis kepercayaan diri. Dari seorang teman, gue tahu bahwa banyak dari mereka yang yatim piatu, bahkan beberapa sempat menyaksikan orang tua mereka dibunuh dalam perang di daerahnya. Mereka ditampung di sini bersama teman-teman yang senasib dengan mereka.
Yang paling membuat gue tersentuh adalah, di balik keterbatasan mental mereka, mereka punya hati yang tulus, hati yang mau saling menerima, hati yang nggak gue punya. Saat diberi instuksi untuk menggambarkan apa yang mereka anggap paling berharga, banyak dari mereka yang menggambar rumah. Menurut mereka, rumah adalah tempat mereka memperoleh perlindungan. Ini membuat gue berpikir, sedikit sekalikah dari mereka yang memperoleh perlindungan dari orang tua? Dan jawabannya memang ya. Bahkan jika ada di antara mereka yang memiliki orang tua, mereka hampir nggak pernah tinggal bersama. Salah satu dari mereka menggambar hutan sebagai apa yang dianggapnya paling berharga. Gue salut, karena dengan mental yang seperti itu, dia mampu menunjukkan kepeduliannya terhadap alam. Sedangkan bagi orang normal kebanyakan, termasuk gue, apa pernah gue merasa hutan itu penting? Belum cukup itu saja. Seorang anak bahkan menggambar alkitab dengan tulisan Jehova Jireh dan gambar alpha omega, dengan alasan bahwa hanya itu yang dapat membawanya ke kehidupan yang kekal. Untuk kesekian kalinya, gue speechless.
Masih banyak touching moments yang gue alami bareng mereka dan temen-temen satu kelompok gue. Gue belajar untuk menghargai orang-orang, terutama dengan keterbatasan-keterbatasan yang mereka miliki, suku mereka, ras dan agama mereka. Overall, kejadian kemarin bikin gue melihat orang-orang dari sisi yang lain, sisi yang sebenarnya nggak kelihatan lewat mata, tapi hati.
Gue tipe orang yang lebih senang kerja indivudual daripada harus tergabung dalam satu kelompok. Gue pengen segala sesuatu itu serba perfect menurut prespektif gue, atau gue nggak bakal aktif sama sekali di kelompok itu. Dan itulah yang terjadi waktu gue harus melakukan kegiatan sejenis bakti sosial sebagai tugas akhir semester sebuah mata kuliah di dalam sebuah kelompok yang mayoritas anggotanya nggak terlalu gue kenal.
Sejujurnya, gue nggak setuju dengan keseluruhan konsep kegiatan yang bakal dilakukan kelompok gue. Mulai dari penyusunan proposal sampai pengajuan proposal itu ke PIC, gue merasa ada yang nggak bener. Salah satu anggota yang dikasih tanggung jawab untuk jadi ketua kelompok sepertinya benar-benar kerja sendirian, sedangkan anggota kelompok yang lain sama sekali nggak tahu perkembangannya. Gue pribadi sih bakal cuek aja kalau hasilnya bisa bagus. Kenyataannya, hasil yang ada sangat jauh dari kata 'bagus'.
Bareng beberapa anggota kelompok yang lain, akhirnya proposal itu direvisi ulang. (gue termasuk anggota yang paling acuh sebenarnya). Menurut hasil revisi proposal, kegiatan bakti sosial itu dijalankan kemarin, 27 November 2010.
Dan inilah kejadian yang akhirnya menjadi titik balik cara pandang gue.
Sampai ketika sampai di lokasi, gue masih beranggapan bahwa ketua kelompok gue adalah tipikal primitif yang memihak orang-orang satu sukunya. Gue merasa berat karena harus bakti sosial di tempat yang notabene adalah anak-anak sesuku ketua kelompok itu.
Selama awal acara, gue memilih jadi seksi dokumentasi daripada harus berinteraksi dengan orang-orang yang nggak gue suka. Gue merasa nyaman dengan ruang yang gue ciptakan di antara mereka.
Karena dalam syarat kegiatan, gue harus 'nimbrung' juga dalam acara, gue terpaksa melibatkan diri dalam konteks seminim mungkin.
Entah gue harus menyesal atau bersyukur, karena justru ketika gue benar-benar melihat mereka, gue tersentuh. Mayoritas dari mereka memiliki keterbelakangan mental, hiperaktif, dan krisis kepercayaan diri. Dari seorang teman, gue tahu bahwa banyak dari mereka yang yatim piatu, bahkan beberapa sempat menyaksikan orang tua mereka dibunuh dalam perang di daerahnya. Mereka ditampung di sini bersama teman-teman yang senasib dengan mereka.
Yang paling membuat gue tersentuh adalah, di balik keterbatasan mental mereka, mereka punya hati yang tulus, hati yang mau saling menerima, hati yang nggak gue punya. Saat diberi instuksi untuk menggambarkan apa yang mereka anggap paling berharga, banyak dari mereka yang menggambar rumah. Menurut mereka, rumah adalah tempat mereka memperoleh perlindungan. Ini membuat gue berpikir, sedikit sekalikah dari mereka yang memperoleh perlindungan dari orang tua? Dan jawabannya memang ya. Bahkan jika ada di antara mereka yang memiliki orang tua, mereka hampir nggak pernah tinggal bersama. Salah satu dari mereka menggambar hutan sebagai apa yang dianggapnya paling berharga. Gue salut, karena dengan mental yang seperti itu, dia mampu menunjukkan kepeduliannya terhadap alam. Sedangkan bagi orang normal kebanyakan, termasuk gue, apa pernah gue merasa hutan itu penting? Belum cukup itu saja. Seorang anak bahkan menggambar alkitab dengan tulisan Jehova Jireh dan gambar alpha omega, dengan alasan bahwa hanya itu yang dapat membawanya ke kehidupan yang kekal. Untuk kesekian kalinya, gue speechless.
Subscribe to:
Comments (Atom)