Thursday, January 6, 2011

Life for Them

I wrote this a couple days ago in my trip to Bangkok, Thailand the last day, before I then continued to Pattaya.

30 Desember 2010,
Sebelum ini, gue selalu mikir 'jalan-jalan' cakupannya cuma soal kuliner, pemandangan, dan foto-foto. Dan memang itu yang paling gue nikmatin setiap pergi melancong.

Ini bukan trip pertama gue dalam sebuah grup yang ngajakin ke tempat kayak ini, toko yang jual tas, dompet, tali pinggang, dan souvenir dari kulit binatang, tapi entah kenapa baru kali ini gue benar-benar peka sama masalah ginian. Kerjasama travel agency dan toko-toko sejenis yang gue kunjungin ini udah sering gue liat sebelumnya.

Di entrance toko, kulit gajah dan kulit buaya dibentangin di dinding dengan ukuran super gede, bikin miris liatnya. Ada juga kulit unta, kulit pare, kulit kuda, dan beberapa jenis hewan yang nggak terlalu gue ingat. Gue coba megang contoh kulit pare yang dipampangin, sementara si SPG toko sibuk cuap-cuap soal gimana cara bedain jenis kulit asli dengan kulit imitasi. Gue emang nggak termasuk orang yang bisa bedain antara kulit asli dan kulit buatan, tapi gue merasa semua barang yang dijual di toko itu adalah jenis kulit palsu.

Sebenarnya yang jadi masalah bukan apakah barang yang dijual itu kulit asli atau bukan, tapi cara toko itu mencoba menjual barang-barangnya. Bayangkan jika 'promosi' mereka memang benar-benar kenyataan, berapa banyak gajah, buaya, dan unta yang dikorbankan? Bukankah gajah dan buaya itu termasuk hewan yang dilindungi? Jadi apa yang harus dibanggakan lewat menjual barang-barang dari kulit binatang yang dilindungi?
Sekalipun ada orang yang beli barang-barang itu karena menganggap itu buatan kulit asli, apa prestise yang bisa dia dapat? Kulit buaya asli? Membunuh buaya-buaya yang dilindungi? Demi sebuah tas (misalnya) yang dipakai dalam jangka beberapa tahun, lalu dibuang karena sudah ketinggalan mode. Puaskah dia? Puas karena sudah menghabiskan sejumlah uang untuk membunuh binatang yang kemudian disia-siakan beberapa waktu kemudian?

Gue tau ini isu lama. Global warming dan kepunahan. Tapi gue pengen share masalah ini, karena setelah gue benar-benar liat gimana cara mereka menjual produk mereka, gue merasa kita udah salah persepsi kalo mikir bahwa memakai kulit binatang itu keren. Mereka punya hak buat hidup, bukan semata buat dijadikan pelengkap fashion manusia doang. Update soal fashion bukan berarti kita berubah jadi animal slayer. Love the animals, guys. :)