Saturday, November 27, 2010

None should Underestimate

Sebelumnya nggak pernah kebayang kalo gue bakal nulis sesuatu di blog. Tapi kemarin, gue mengalami sesuatu yang benar-benar mengubah cara pandang gue dan yang mendorong gue untuk akhirnya menulis sebuah blog.

Gue tipe orang yang lebih senang kerja indivudual daripada harus tergabung dalam satu kelompok. Gue pengen segala sesuatu itu serba perfect menurut prespektif gue, atau gue nggak bakal aktif sama sekali di kelompok itu. Dan itulah yang terjadi waktu gue harus melakukan kegiatan sejenis bakti sosial sebagai tugas akhir semester sebuah mata kuliah di dalam sebuah kelompok yang mayoritas anggotanya nggak terlalu gue kenal.
Sejujurnya, gue nggak setuju dengan keseluruhan konsep kegiatan yang bakal dilakukan kelompok gue. Mulai dari penyusunan proposal sampai pengajuan proposal itu ke PIC, gue merasa ada yang nggak bener. Salah satu anggota yang dikasih tanggung jawab untuk jadi ketua kelompok sepertinya benar-benar kerja sendirian, sedangkan anggota kelompok yang lain sama sekali nggak tahu perkembangannya. Gue pribadi sih bakal cuek aja kalau hasilnya bisa bagus. Kenyataannya, hasil yang ada sangat jauh dari kata 'bagus'.
Bareng beberapa anggota kelompok yang lain, akhirnya proposal itu direvisi ulang. (gue termasuk anggota yang paling acuh sebenarnya). Menurut hasil revisi proposal, kegiatan bakti sosial itu dijalankan kemarin, 27 November 2010.

Dan inilah kejadian yang akhirnya menjadi titik balik cara pandang gue.
Sampai ketika sampai di lokasi, gue masih beranggapan bahwa ketua kelompok gue adalah tipikal primitif yang memihak orang-orang satu sukunya. Gue merasa berat karena harus bakti sosial di tempat yang notabene adalah anak-anak sesuku ketua kelompok itu.
Selama awal acara, gue memilih jadi seksi dokumentasi daripada harus berinteraksi dengan orang-orang yang nggak gue suka. Gue merasa nyaman dengan ruang yang gue ciptakan di antara mereka.
Karena dalam syarat kegiatan, gue harus 'nimbrung' juga dalam acara, gue terpaksa melibatkan diri dalam konteks seminim mungkin.
Entah gue harus menyesal atau bersyukur, karena justru ketika gue benar-benar melihat mereka, gue tersentuh. Mayoritas dari mereka memiliki keterbelakangan mental, hiperaktif, dan krisis kepercayaan diri. Dari seorang teman, gue tahu bahwa banyak dari mereka yang yatim piatu, bahkan beberapa sempat menyaksikan orang tua mereka dibunuh dalam perang di daerahnya. Mereka ditampung di sini bersama teman-teman yang senasib dengan mereka.
Yang paling membuat gue tersentuh adalah, di balik keterbatasan mental mereka, mereka punya hati yang tulus, hati yang mau saling menerima, hati yang nggak gue punya. Saat diberi instuksi untuk menggambarkan apa yang mereka anggap paling berharga, banyak dari mereka yang menggambar rumah. Menurut mereka, rumah adalah tempat mereka memperoleh perlindungan. Ini membuat gue berpikir, sedikit sekalikah dari mereka yang memperoleh perlindungan dari orang tua? Dan jawabannya memang ya. Bahkan jika ada di antara mereka yang memiliki orang tua, mereka hampir nggak pernah tinggal bersama. Salah satu dari mereka menggambar hutan sebagai apa yang dianggapnya paling berharga. Gue salut, karena dengan mental yang seperti itu, dia mampu menunjukkan kepeduliannya terhadap alam. Sedangkan bagi orang normal kebanyakan, termasuk gue, apa pernah gue merasa hutan itu penting? Belum cukup itu saja. Seorang anak bahkan menggambar alkitab dengan tulisan Jehova Jireh dan gambar alpha omega, dengan alasan bahwa hanya itu yang dapat membawanya ke kehidupan yang kekal. Untuk kesekian kalinya, gue speechless.

Masih banyak touching moments yang gue alami bareng mereka dan temen-temen satu kelompok gue. Gue belajar untuk menghargai orang-orang, terutama dengan keterbatasan-keterbatasan yang mereka miliki, suku mereka, ras dan agama mereka. Overall, kejadian kemarin bikin gue melihat orang-orang dari sisi yang lain, sisi yang sebenarnya nggak kelihatan lewat mata, tapi hati.

No comments:

Post a Comment